|
Seminar Nasional: "Welfare Approach Sebagai Kerangka Strategis Tangkal Kekerasan Sosial dan Terorisme di Indonesia" |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 10 October 2011 06:12 |
|
Gejala kekerasan sosial yang ditandai dengan maraknya tawuran antar remaja, tawuran antar kampung, pembakaran rumah, atau pengeboman yang cenderung mengarah kepada tindakan terorisme dan radikalisme masih marak terjadi di masyarakat kita. Motif dan alasan dari tindakan tersebut sangat beragam dan sangat kompleks. Diantaranya adalah dipicu oleh faktor fanatisme terhadap faham ajaran agama, fanatisme terhadap kelompok atau kesukuan, dan karena faktor kesenjangan sosial ekonomi yang sangat lekat dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Beberapa contoh kekerasan sosial tersebut adalah peristiwa di Puncak Jaya Papua baru-baru ini; pengeboman menara World Trade Center (WTC), Pentagon di Amerika Serikat, Jimbaran Bali, Hotel Marriot, hotel Ritz Carlton, dan beberapa tempat lain. Kompleksitas pemicu tersebut ditengarai oleh karena faktor kebencian pelaku kekerasan (teroris) terhadap Negara tertentu (misalnya Amerika Serikat) yang dianggap sebagai Negara adidaya (super power); faktor sosial ekonomi, tepatnya kecemburuan sosial karena merasa terdapat kesenjangan antara Negara kaya yang didominasi oleh Amerika Serikat dan sekutunya yang terus melakukan eksploitasi dan monopoli terhadap Negara berkembang dan terbelakang. Sehingga aksi ini lebih tepatnya dapat dikatakan sebagi aksi dendam dan kecemburuan sosial; dan terakhir adalah penilaian beberapa pengamat yang mengatakan bahwa kekerasan tersebut dipicu oleh faktor kemiskinan. Ketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan membuat masyarakat mudah dipengaruhi oleh gerakan radikal yang menawarkan alternatif spekulatif, seperti terror.
|
|
Last Updated on Friday, 14 October 2011 10:51 |
|
Read more...
|